Electronic Resource
Jawa-Islam di Masa Kolonial: Suluk, Santri, dan Pujangga Jawa
Bagi penjajah, di satu sisi, Islam memunculkan kecurigaan sebagai sebuah kenyataan berbahaya, suatu kekuatan yang, mampu dan mungkin akan muncul di mana saja dan kapan saja. Di sisi yang lain, Islam masih tetap akan merupakan semacam hantu yang kehadirannya tak diakui, nyaris seperti perlu meruwatnya dari realitas tulên "Jawa". Islam menandakan bahaya, namun sebuah bahaya yang dalam jangkauan otoritas penjajah perlu dipahami, dan oleh karena itu memang dipandang, sebagai suatu yang asing aneh, dan secara intrinsik bersifat "bukan Jawa". Dan oleh karena Islam berasal dari tempat asing yang dianggapnya tidak cocok dengan Jawa-"nya", para pejabat kolonial biasa mengecap manusia Jawa yang diluasainya scbagai Muslim sinkretik saja. Otoritas kolonial nampaknya perlu menyangkal kemungkinan “Islam Jawa sesungguhnya" atau "Jawa Islam sesungguhnya" Jadi meskipun pejabat kolonial sangat bersemangat mengawasi dan mengobservasi "hantu Islam" pada pinggiran atau pada retakan masyarakat Jawa yang mereka jajah, tetap saja mata mereka "tak mampu melihat" Islam tulen yang begitu mengemuka di tengah tengah kerumunan penduduk banyak. Bahkan lebih lanjut hingga pada satu titil: adalah merupakan kepentingan kolonial untuk menanamkan, dan mengembangkan kelalaian itu, "kegagalan melihat" itu, pada manusia Jawa sendiri, dan paling penting adalah penanamannya pada elit-bangsawan Jawa.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain